Friday, October 17, 2008

Demam Floriana

Bukan, Floriana bukanlah sebuah kota di Malta. Tapi Floriana yang saya maksud adalah si Flo dalam Laskar Pelangi.

Sebagai orang yang suka ikut-ikutan, saya yang (tadinya) bukan pembaca Laskar Pelangi ikut-ikutan menonton film tersebut waktu libur lebaran. Tujuannya satu: biar ketika ditanya orang "udah nonton Laskar Pelangi belum?", saya bisa jawab dengan bangga: "udah dong." Hahaha.. Dasar manusia nggak punya prinsip.

Filmnya baik-baik saja. Tidak ada komplain. Bahkan sehabis menonton filmnya, saya langsung membaca ketiga bukunya yang ternyata sudah dimiliki oleh adik saya. Sehabis membaca buku-buku itu, saya bisa memaklumi kegandrungan orang-orang terhadap Tetralogi Laskar Pelangi dan Andrea Hirata secara personal.

Anywaaaay.. Gak usah ngebahas buku dan filmnya ya. Udah banyak direview dimana-mana. Saya cuman mau bercerita tentang sebuah fragment hidup, yang terjadi akibat percakapan sore hari melalui telepon dengan salah seorang teman baik saya sekaligus salah satu mentor saya. Percakapan itu diawali dengan pertanyaan simple: "Siapa tokoh favorit lo di Laskar Pelangi?"

Saya menjawab cepat: Mahar! Simply because he was so cute in the movie. Mukanya manis. Lucu banget. Gila banget. Punya bakat seni yang luar biasa (something I don't have), dan bisa menyanyi lagu Seroja dengan merdu (sebagai anak yang dari suami-istri penggemar musik melayu, saya suka loh lagu Seroja itu hehehe).

Kemudian giliran teman saya menceritakan tokoh favoritnya. Awalnya, saya menebak pasti tokoh favoritnya adalah Lintang atau Pak Kepala Sekolah atau Ibu Muslimah, tokoh-tokoh pejuang sejati. Tapi tebakan saya salah, karena tokoh favoritnya ternyata Floriana alias Flo, anak sekolah PN Timah yang mewah yang memutuskan pindah ke SD Muhammadiyah yang sederhana.

Kenapa Flo? Apakah karena Flo penggemar mistik? Bukaaan.. Teman saya ini bukan penggemar mistik kok, terlepas dari kemiripannya dengan Ki Joko Boda :P

Menurut teman saya, murid-murid SD Muhammadiyah bersekolah di situ karena mereka miskin. Mereka tidak punya pilihan lain selain belajar di tempat yang mampu dijangkau. Berbeda dengan Flo. Flo adalah anak orang kaya, bisa sekolah dimana saja, termasuk di sekolah PN Timah yang mewah itu. Flo punya pilihan. Dan akhirnya dia memilih bersekolah di SD Muhammadiyah. Flo telah memutuskan keluar dari zona nyamannya, dan mencoba tantangan baru di luar kenyamanannya dia.

Damn! Teman saya telah menularkan Demam Floriana pada saya. Dan pada saat yang bersamaan saya harus memilih apakah akan tetap di zona nyaman saya, atau menerima tawaran untuk keluar dari zona nyaman ini dan mencoba tantangan baru di luar sana. Sekarang saya tidak tau apakah saya memang telah tertular Demam Floriana atau hanya terkesan dengan seorang Floriana.